Target Sejuta Wisatawan Mancanegara Kunjungi Sulut di 2025

Matahari saja yang setiap hari terbit dan tenggelam tetap memiliki daya tarik yang bisa dijual.

Oleh: Sulistyo Wimbo S. Hardjito

Wisata alam Indonesia membentang mulai dari Bunaken, Raja Ampat, Derawan, Wakatobi, Maratua, Banda Neira, hingga lama-kelamaan semakin banyak pulau lain yang bermunculan dan menantang untuk dikunjungi. Masih banyak obyek lain dengan keindahan taman lautnya yang menyimpan ratusan spesies binatang laut dan terumbu karang.

Mengapa wisata buatan terkadang lebih menarik dibandingkan wisata alam? Si pemilik wisata buatan ini membutuhkan investasi, misalnya dengan meminjam bank dan sebagainya. Sehingga dia butuh pengembalian investasi tersebut. Hal ini menjadikan driver-nya berbeda dengan wisata alam. Pemilik wisata buatan selalu menyiapkan pelayanan. Sementara wisata alam terkesan seadanya, kurang berpromosi, karena pemiliknya yang banyak pihak.

Padahal, wisata alam ini punya keunikan tersendiri, yang tidak mungkin sama di satu tempat dengan tempat lain, serta tak dapat dipindahkan. Apa yang ada di Pulau Lembeh misalnya, pasti berbeda dengan apa yang ada di Wakatobi. Karangnya beda, ikannya pun beda. Sepintar-pintarnya manusia, tak akan ada yang bisa memindahkan wisata alam ini.

Wisata alam ini jumlahnya banyak sekali, dan seolah tiba-tiba ada saja yang baru muncul. Ini karena memang tempat itu baru saja dieksplor. Bisa jadi kita saat ini belum seperempatnya melihat pulau-pulau dengan potensi wisata bahari yanga ada di Nusantara ini. Di Sulawesi Utara saja misalnya, mungkin baru segelintir orang yang pernah mengunjungi Mahangetang, gunung api bawah laut (underwater vulcano) dengan puncaknya yang berada sekitar 8 meter di bawah permukaan laut.

Wisata alam ini sifatnya bisa dibilang tidak butuh pemeliharaan, berbeda dengan wisata buatan yang selalu dijaga dan dipelihara. Hal ini menjadikan wisata alam sering rusak, kotor, dan tak terawat. Padahal jika wisata alam ini dijadikan peluang dan dipromosikan pasti akan menjadi daya tarik tersendiri. Bisa untuk snorkeling, diving, atau fishing. Matahari saja yang setiap hari terbit dan tenggelam tetap memiliki daya tarik yang bisa dijual. Ditambah lagi saat ini sedang tren cycling atau bersepeda, yang bisa dilakukan di pantai, di gunung, atau di jalan yang terjal.

Manado merupakan pintu gerbang untuk menikmati beragam wisata alam seperti Bunaken, Pulau Lembeh, hingga Mahangetang tadi. Juga wisata kuliner dengan makanan-makanan terkenal pedasnya. Perlu adanya sumber daya manusia dan kesiapan mental sebagai enabler-nya. Juga perlu dibuat “pembungkusnya”, ceritanya. Bagaimana kita bisa menceritakan sejarah dan legenda tentang Tomohon atau Danau Tondano dengan ikan mujairnya, sehingga bisa lebih menarik rasa ingin tahu wisatawan.

Tantangan untuk hal ini adalah soal aksesibilitas dan akomodasi. Di Talaud misalnya, belum ada tempat untuk menginap bagi wisatawan. Selain itu juga soal tarif dan upaya promosi yang perlu ditingakatkan. Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pariwisata, sebenarnya sudah sangat aktif melakukan promosi di luar negeri, namun sayangnya terkadang yang mengisi promosi tersebut yang tidak ada. Hendaknya pemerintah daerah perlu memprioritaskan hal ini.

Bandara Sam Ratulangi sendiri siap untuk menyambut wisatawan yang datang ke Sulawesi Utara. Cukup banyak perbaikan yang telah dilakukan, baik di luar bandara, airside, hingga area parkir. Panjang landasan (runway) yang ada sudah cukup memadai. Ini dilakukan sebagai langkah proaktif dalam mendukung Provinsi Sulawesi Utara mengembangkan industri pariwisatanya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *