Mengejar Kesempurnaan

Kita ingin mengejar kesempurnaan sebagaimana bandara-bandara terbaik di luar negeri dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini.

Suatu hari, Kahlil Gibran bertanya kepada gurunya, “Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?” Sang Guru menjawab, “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang!” Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Kahlil Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu Sang Guru bertanya, “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satupun?” “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!” sesal Gibran.

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata, “Ya, itulah hidup. Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.”

Sekilas, Kahlil Gibran tadi mengingatkan bahwa kita tidak bisa kembali ke belakang. Namun, kita bisa selalu melakukan yang terbaik di depan kita, meski itu merupakan hal yang sepele dan sederhana. Dengan niat baik dan keikhlasan, hal yang sepele dan sederhana itu akan selalu sampai dan menjadi sesuatu yang terbaik bagi yang menerima.

Sempurnakanlah yang ada di bandara kita untuk melayani penumpang, dengan sebaik-baiknya. Ingatlah:

  • Bila tak bisa memberi, jangan mengambil.
  • Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci.
  • Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih.
  • Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit/memberatkannya.
  • Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat.
  • Bila tak bisa menghargai, jangan menghina.

Maka:

  • Bila bandara kita tidak bisa menyediakan toilet yang mewah untuk penumpang, kita berikan toilet yang bersih, wangi, dan rapi.
  • Bila bandara kita tidak memberi pencahayaan yang menarik, kita berikan penerangan yang memadai.
  • Bila kita belum bisa memuji kepada penumpang, kita berikan ucapan selamat datang atau selamat jalan.
  • Bila kita tidak bisa meringankan bawaan penumpang, kita sediakan troli sedekat mungkin dengan bawaan penumpang.
  • Bila kita belum mampu memberi kenang-kenangan kepada penumpang, kita sediakan spot foto yang menarik agar penumpang bisa ber-“selfie ria” di bandara.
  • Bila kita belum mampu menyediakan kursi tunggu dari sofa yang nyaman dan empuk, kita cukupkan kursi tunggu dengan kelengkapan stop kontak agar penumpang bisa men-charge ponselnya
  • Bila kita belum bisa menghibur penumpang dengan airport cinema seperti di Bandara Sepinggan Balikpapan, hiburlah penumpang dengan reading corner seperti di Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
  • Bila kita belum mampu mengundang kedatangan wisatawan dari banyak negara, kita fokuskan ke wisatawan Tiongkok untuk Manado, wisatawan Australia untuk Kupang, atau wisatawan Malaysia untuk Lombok.

Kita ingin mengejar kesempurnaan sebagaimana bandara-bandara terbaik di luar negeri dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini. No Airport Left Behind!

Terus Perbaikan, Semangat Perbaikan!

Selamat Tahun Baru 1438 Hijriah, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depan, dalam beribadah dan berkarya…

Montreal, 1 Oktober 2016
-SWS. Hardjito-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *