Membidik Penumpang Udara di Timur

Rencana BUMN kebandarudaraan Angkasa Pura Airports, pengelola 13 bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia, untuk mengembangkan enam bandara dengan investasi sebesar Rp54 triliun merupakan keputusan yang strategis, merujuk pada tren jumlah penumpang pesawat terbang yang meningkat.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Februari 2017 mengenai perkembangan jumlah angkutan penumpang udara pada 2016 setidaknya menjadi sinyal positif permintaan angkutan menggunakan pesawat terbang, sekaligus memperlihatkan besarnya prospek pengembangan transportasi udara, terutama di kawasan tengah dan timur.

Berdasarkan data tersebut, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada 2016 mencapai 80,4 juta orang atau naik 16,97% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 68,8 juta orang. Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara ke luar negeri, baik menggunakan penerbangan nasional maupun asing mencapai 14,8 juta orang atau naik 8,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu merupakan kelanjutan dari tren serupa yang terjadi sejak 2014. Pada tahun ini, pertumbuhan angkutan udara diperkirakan tumbuh 13,25%-16%, dengan asumsi bahwa permintaan terhadap moda udara biasanya tumbuh 2,5-3 kali dari laju pertumbuhan ekonomi yang pada 2017 diproyeksikan mencapai 5,2%.

Pada tahun lalu, Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, yang menjadi pintu gerbang pergerakan orang dari dan ke Jabodetabek, memang masih menjadi kontributor terbesar dengan 20,4 juta orang atau seperempat dari keseluruhan penumpang domestik, diikuti Bandara Juanda, Surabaya. Begitu juga untuk penumpang internasional Soekarno Hatta masih yang terbesar dengan 6,6 juta orang atau 44,3% dari jumlah seluruh penumpang ke luar negeri, diikuti Ngurah Rai, Denpasar.

Namun dilihat pertumbuhan penumpangnya, tiga bandara di wilayah tengah dan timur yaitu Juanda, Ngurah Rai, dan Hassanuddin, Makassar, memperlihatkan peningkatan tiga kali lipat lebih besar dari Cengkareng, yaitu masing-masing 16,93%, 18,81%, dan 16,74% untuk penumpang domestik. Pada tahun yang sama pertumbuhan penumpang dalam negeri di Bandara Soekarno Hatta tercatat 5,31%.

Dengan melihat tren tersebut, keputusan Angkasa Pura Airports memasukkan ketiga bandara itu dalam program prioritas pengembangan infrastruktur transportasi udara sangat tepat guna mengantisipasi permintaan yang terus meningkat. BUMN itu juga memasukkan tiga bandara lainnya dalam program tersebut yaitu Bandara Kulonprogo Yogyakarta, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin.

Yang menarik dicermati adalah pembangunan bandara internasional di Kulonprogo. Pelaksanaan proyek ini dilatarbelakangi oleh jumlah penumpang di Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang pada 2015 ternyata sudah mencapai 5,8 juta orang, atau lima kali lipat dibandingkan daya tampung terminalnya yang hanya 1,2 juta orang pertahun.

Perkembangan permintaan angkutan udara tersebut memang sepantasnya direspons oleh pengelola bandara dengan program peningkatan kapasitas, baik dengan cara memperpanjang landas pacu atau memperluas terminal eksisting hingga membangun bandara baru.

Program peningkatan kapasitas itu diharapkan akan menarik minat maskapai untuk meningkatkan frekuensi penerbangan atau membuka rute ke destinasi tersebut. Sebab, dengan peningkatan kapasitas landasan pacu, misalnya, airlines bisa mengoperasikan pesawat yang kapasitas angkutnya besar.

Dengan asumsi sederhana, pengoperasian pesawat berkapasitas besar bisa menekan biaya operasional, sehingga akan mempengaruhi besaran tarif yang ditawarkan kepada konsumen. Melalui tarif yang terjangkau dan wajar itu, maka permintaan pun berpeluang untuk meningkat.

Selain memberikan dampak positif terhadap kinerja pengelola bandara melalui pendapatan dari jasa aeronautika maupun nonaeronautika, harian ini berharap program pengembangan enam bandara tersebut kian memacu pergerakan ekonomi kawasan tengah dan timur Indonesia.

Jadi, lebih dari sekadar meningkatkan konektivitas dan mempermudah aksesibilitas, pengembangan bandara diharapkan memacu investasi di bidang pariwisata, akomodasi, transportasi, telekomunikasi, properti, dan sektor ekonomi lainnya. Harus dihitung pula dampak dari pengembangan bandara berikut efek bergulirnya dalam menggerakkan usaha skala kecil menengah di daerah dan penyerapan tenaga kerja. [Sumber: Bisnis Indonesia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *