Desain Bandara Baru Yogyakarta Laksana Hamparan Batik Kawung

Rancangan desain Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo sudah mulai dikenalkan pada khalayak luas. Nantinya, bandara ini akan dibangun dengan mempertimbangkan nuansa khas Yogyakarta. Dari angkasa, penumpang pesawat bisa melihat bangunan terminal layaknya hamparan kain batik bermotif kawung.

 

Bandara Internasional Yogyakarta akan memiliki konsep yang memadukan keselerasan sentuhan budaya Jawa dengan konsep modern dan internasional. “Desain Bandara Internasional Yogyakarta ini dipilih melalui sebuah kompetisi. Namun desain tersebut baru sekedar fisik semata, sehingga perlu ada roh yang mencirikan konsep yang benar-benar Yogyakarta. Khususnya sebagai penanda Bandara Internasional Yogyakarta adalah Yogyakarta. Desain itu hanya raga, roh ada di dalamnya. Nah, roh khusus Yogyakarta itu seperti apa? Ini yang akan kami wujudkan,” kata Airport Planning Group Head Angkasa Pura Airports Yudhaprana Sugarda dalam acara ‘Babar Gambar Bandara Anyar’ di Pelem Golek Resto, Yogyakarta, Kamis (16/3/2017) malam.

‘Babar Gambar Bandara Anyar’ merupakan diskusi mengenai desain Bandara Internasional Yogyakarta sekaligus sosialisasi rencana desain bandara oleh pemenang beauty contest. Acara ini menghadirkan para budayawan, seniman, dan kurator di Yogyakarta. Narasumber yang hadir dalam acara ini antara lain Heddy Shri Ahimsa Putra (Guru Besar Antropologi UGM), Suwarno Wisetrotomo (kurator dan kritikus seni), Bambang ‘Toko’ Witjaksono (kurator dan pekerja seni), dan Timmy Hartadi (budayawan dan pekerja seni), dengan moderator RM. Altianto. “Harapannya, melalui kritik dan saran mereka nanti, roh ‘Ngayogyakarto’ dalam bandara baru nanti benar-benar bisa mereka dapatkan dalam bandara ini,” imbuh Yudhaprana.

“Bandara harus dibangun untuk memancing daya jelajah pesinggah. Bandara baru yang berlokasi di Temon akan menjadi representasi dari daratan dan laut, tanah air Indonesia. Sungguh tepat apabila ada kesinambungan antara arsitektur, filosofi, dan visual yang akan dimunculkan di bandara,” tutur Heidy Shri Ahimsa.

Commercial Check In Area

“Yogyakarta adalah heritage city, maka dari itu untuk menciptakan dunia yang indah diperlukan nilai budi pekerti. Desain Bandara Internasional Yogyakarta nantinya direncanakan benar-benar menyuguhkan atmosfer budaya yang berlimpah dan tidak akan meninggalkan budaya, khususnya di lingkungan Temon, Kulon Progo saat ini. Namun tetap memperhatikan perkembangan kebutuhan masyarakat yang ada di era modern,” tegas Airport Planner Virama Karya, Benyamin Aris Nugroho, pemenang basic design contest Bandara Internasional Yogyakarta.

“Angkasa Pura Airports menginginkan gaya baru dalam pembangunan bandara. Bukan hanya bangunan yang meninggalkan kesan bagi penumpang, tapi juga pelayanan yang optimal. Dalam pekerjaan basic design dan design development, kami berharap para budayawan dan antropolog yang hadir bisa ikut memberikan masukan untuk desain yang diusulkan. Saat membaca TOR, ada satu hal yang tidak bisa kami lakukan sendiri. Kami harus melibatkan olah rasa dan olah karsa dengan seniman dan budayawan Yogyakarta, serta masukan dari pemangku kepentingan di Yogyakarta lainnya,” imbuh Benyamin.

Salah satu yang ingin dituangkan dalam konsep bandara ini yaitu sebuah ruh untuk memberi pengalaman kepada pengunjung ketika masuk hingga keluar bandara. Bukan sekadar dari bentuk arsitektur tetapi semangat agar bandara ini selalu melekat di hati penumpang, baik operasional, security, layanan, dan juga hal lainnya. Bandara bukan bangunan ikonik yang harus mengadopsi sebuah proses transfer penumpang antarmoda. “Jadi, bandara bukan hanya menjadi tujuan akhir. Sebagai sebuah gerbang, Bandara Internasional Yogyakarta harus mencerminkan sebuah ‘kori agung’ sebuah kawasan. Kami ingin mempresentasikan bandara ini sebagai gerbang atau Kori Agung Ngayogyakarto Hadiningrat,” jelasnya.

Menurut Benyamin, karena bandara akan menjadi pintu gerbang Yogyakarta, maka ia harus mewakili identitas seluruh penghuni di dalamnya dan memberikan latar pengalaman baru bagi para tamunya. Untuk itu, bandara ini memiliki nuansa filosofi dan arsitektur yang kental akan warna budaya Jawa. Dari sisi arsitektur, menghadirkan rengkuhan unik pesona batik dan memadukan dengan green concept serta integrasi teknologi modern, baik operasional dan pelayanan.

Bandara Internasional Yogyakarta juga akan menjadi semacam galeri seni. Nuansa seni budaya Jawa digunakan untuk mereduksi tingkat stres penumpang. Diantaranya dengan merepresentasi desain Serat Ronggowarsito, pujangga besar Jawa abad ke-19. Selain itu, desain interior yang memadukan nuansa Pantai Glagah dan Gumuk Pasir dihadirkan sebagai interprestasi tentang Yogyakarta bagian selatan. Di sela-selanya akan diselipkan simbol bunga wijaya kusuma yang bemakna budaya Yogyakarta yang sudah terbangun ribuan tahun lalu dan terus ada di masa yang akan datang jika generasi penerus tetap menjaga dan memperkaya budaya tersebut. Interiornya juga bakal dibuat seolah bertutur. Contohnya tulisan ‘sugeng rawuh’ atau selamat datang. Ada pula cerita soal kerakyatan, potensi desa, dan kesenian warga setempat.

Penggunaan produk lokal seperti tegel kunci penuh motif juga rencananya akan menambah suasana khas Yogyakarta. “Ada artwork berupa lampu-lampu berpola batik motif truntum yang akan bergerak mengarahkan penumpang ke arah tertentu. Artwork ini secara semiotik dapat mengarahkan penumpang. Dengan demikian, meskipun ada petunjuk berupa tulisan, tapi penumpang bisa tahu ke arah tanpa perlu membaca itu,” urai Benyamin.

Pada bagian atap bandara akan didesain dengan motif batik kawung, yang merupakan simbolisasi pencapaian menuju hakikat Ketuhanan Yang Mahaesa. Desain batik kawung juga memiliki makna titik pertemuan empat sudut penjuru mata angin. Dengan berbagai desain yang direncanakan itu, Bandara Internasional Yogyakarta didesain untuk mencapai satu titik tujuan agar pengguna bisa merasakan sensasi baru tanpa kehilangan akar budaya. [Arif Haryanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *