Harus Bisa To Lead Sekaligus To Serve

Oleh: Tommy Soetomo

Ketika menjadi pemimpin, kita harus siap memimpin sekaligus siap melayani, harus to lead is to serve. Pemimpin yang ideal ya harus mau berkorban, sekaligus mau melayani. Seorang pemimpin juga harus bisa mengoptimalkan potensi orang-orang yang dipimpinnya. Soalnya, keberhasilan pemimpin dilihat dari bagaimana kinerja para anak buahnya. Menciptakan kondisi kerja yang kondusif jelas merupakan syarat utama agar bisa to lead, to serve. Karena dengan kenyamanan para karyawan, maka potensi mereka dalam bekerja juga akan optimal.

Dalam memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kenyamanan kerja di lingkungan perusahaan juga harus diimbangi dengan hasrat untuk melayani masyarakat. Jadi, semangat sebagai sebuah institusi pelayan masyarakat wajib dimiliki oleh semua karyawan, di mana pun ia bekerja.

Prinsip to lead is to serve saya terapkan dalam memimpin Angkasa Pura I. Sadar bahwa tantangan sebagai operator 13 bandara udara di Indonesia makin besar, maka pelayanan terhadap bandara-bandara harus ditingkatkan. Paradigma bahwa Angkasa Pura I hanya mengurusi teknis operasi bandara harus diubah. Kepuasan konsumen yang menjadi patokan bagi kami untuk bekerja.

Ukuran keberhasilan meningkatkan pelayanan konsumen atawa customer satisfaction index (CSI) mulai tahun ini akan dinilai oleh lembaga Independent Airport Council International (ACI). Penilaian ini dilakukan di tiga bandara utama yakni Hasanuddin Makassar, Ngurah Rai Bali dan Juanda, Surabaya.

Di sinilah penerapan semangat untuk meningkatkan pelayanan diterapkan. Bandara-bandara yang ada di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan tradisional dari biaya charge pesawat atau parkir lagi. Bahkan, beberapa bandara di luar negeri malah sudah menggratiskan biaya itu.

Oleh karena itu, harus ada peningkatan pelayanan di bandara agar bisa mendatangkan pemasukan. Pengguna jasa juga merasa terlayani dengan baik. Semua fasilitas mulai dari tempat bermain anak, toilet hingga makanan harus sudah tersedia.

Memang  untuk memulainya perlu keberanian. Tahap awal sudah pasti akan memakan biaya yang cukup besar. Namun, dalam beberapa tahun ke depan saya yakin semua kerja keras itu akan terbayar. Misalnya, jika sekarang masyarakat ke bandara rata-rata hanya menghabiskan uang sekitar US$ 2, layanan yang baik di bandara bisa meningkatkan tingkat belanja konsumen bisa tiga, bahkan lima kali lipat. Syaratnya, ya, mereka harus merasa nyaman berbelanja di bandara.

Oleh karena itu, semangat besar untuk melayani masyarakat juga menjadi modal ketika menyatukan kembali keretakan di tubuh manajemen. Minimal, saat ini di Angkasa Pura telah terjadi harmonisasi hubungan di internal manajemen, dan antara manajemen dengan serikat pekerja. Ini menjadi modal kami untuk melayani konsumen. Tanpa modal ini, sulit bagi kami untuk bergerak cepat.

Pemimpin otoriter, yang hanya memerintah sudah tak laku. Untuk menyelesaikan masalah dengan serikat pekerja dibutuhkan pemimpin yang luwes, mampu mendengarkan aspirasi banyak pihak. []

(Dimuat di rubrik Kopi Sabtu Pagi, Harian Kontan, 13 Oktober 2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *