Enam Bandara Angkasa Pura Airports Dikucuri Rp54 Triliun

Bogor – Angkasa Pura Airports menyiapkan anggaran Rp54 triliun untuk mempercepat proyek pembangunan dan pengembangan enam bandara di Indonesia tengah dan timur.

Danang S. Baskoro, Direktur Utama Angkasa Pura Airports, mengatakan percepatan proyek pengembangan bandara dilakukan menjadi satu tahun hingga dua tahun dari selama ini yang membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun.

Dia memaparkan keenam bandara yang menjadi prioritas adalah Bandara Kulon Progo Yogyakarta, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin.

Selain itu, Bandara I Ngurah Rai Denpasar, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara Juanda Surabaya.

“Kami butuh Rp54 triliun untuk pengembangan enam bandara. Sumber pendanaanya dari obligasi. Obligasi sudah kami terbitkan. Ini akan kami terbitkan lagi sesuai kebutuhan,” katanya di sela-sela perayaan ulang tahun Angkasa Pura Airports ke-53 di Sentul, Bogor, Sabtu (25/2).

Dia menjelaskan pihaknya masih menunggu waktu yang tepat guna menerbitkan obligasi lanjutan setelah pada November 2016 menerbitkan surat utang senilai Rp3 triliun.

Selain obligasi, tegasnya, perseroan juga didukung pembiayaan dari sektor perbankan terutama Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, dan Bank BCA.

Danang menjelaskan strategi mempercepat proyek pengembangan bandara didorong laju pertumbuhan jumlah penumpang pesawat udara di Indonesia yang naik signifikan.

“Hari Ulang Tahun ke-53 Angkasa Pura Airports ini kami jadikan sebagai momentum untuk mempercepat penyelesaian pembangunan dan pengembangan bandara-bandara yang kami kelola, terutama Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Baru Yogyakarta. Percepatan ini dilakukan untuk meningkatkan level of service,” ungkapnya.

Pada tahun ini, imbuhnya, perseroan juga memaksimalkan pendapatan dari bisnis non-aeronautika untuk menyeimbangkan sumber pendapatan. Pendapatan non-aeronautika merupakan perolehan dari jasa yang menunjang penerbangan, sementara pendapatan aeronautika berasal dari jasa pelayanan langsung penerbangan.

Danang menargetkan porsi pendapatan dari bisnis non-aeronautika bisa mencapai 45% dari total pendapatan perusahaan pelat merah itu. “(Sekitar) 45% bisa berasal dari non-aeronautika. Kalau bisa separuhnya, lebih bagus lagi,”. Selama ini, bisnis bandara di dunia melayani dua segmen utama, yaitu operator penerbangan dan penumpang. “Kita tentu tidak bisa membebani maskapai dengan cash yang mahal-mahal, misalnya untuk parkir pesawat. Jadi diharapkan bisnis non-aeronautika seperti penyewaan beberapa area komersial di bandara, bisa berkontribusi lebih,” paparnya.

Israwadi, Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura Airports, sebelumnya menargetkan pendapatan non-aeronautika sebesar Rp3,3 triliun sepanjang 2017 atau naik 32% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu sebesar Rp2,5 triliun.

Pendapatan non-aeronautika merupakan satu dari dua target utama perseroan yang terus digenjot guna menjadi operator bandara kelas dunia. bDia menjelaskan penggerak pendapatan non-aeronautika pada tahun ini akan lebih banyak didorong dari pendapatan konsesi, khususnya area komersial. Pendapatan konsesi ditargetkan menyumbang pendapatan hingga Rpl,3 triliun.

Saat ini, lanjutnya, area komersial di beberapa bandara yang dikelola Angkasa Pura Airports masih belum optimal menyumbang pendapatan. Dia mencontohkan Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bandara Sepinggan Balikpapan, dan Bandara Hasanuddin Makassar.

Pada tahun lalu, Danang juga menyatakan enam bandara yang dikelola Angkasa Pura Airports tercatat mengalami kerugian.

Keenam bandara itu adalah Bandara Pattimura Ambon, Bandara Frans Kaisiepo Biak, Bandara El Tari Kupang, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Adi Soemarmo Solo, dan Bandara Ahmad Yani Semarang.

Selama ini, tegasnya, kerugian yang diderita keenam bandara itu ditutupi oleh bandara lain yang mendulang keuntungan seperti Bandara Juanda Surabaya. “(Ibaratnya) melalui mekanisme subsidi silang,” katanya. [Sumber: Bisnis Indonesia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *