Arah Angin yang Berubah dari Joglosemar

Joglosemar harus bersaing dan bersanding.

Jawa Tengah dan Yogyakarta adalah jantung Pulau Jawa. Tak pelak, bandara-bandara yang ada di kedua provinsi tersebut punya arti penting dalam simpul transportasi udara di Jawa, bahkan Indonesia. Selama tiga hari (9-11 September 2016) memantau secara berurutan Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Adi Soemarmo Solo, ada beberapa kesan dan catatan. Kebetulan, ketiga bandara ini memiliki karakteristik yang mirip, yaitu sama-sama bandara enclave civil di daerah dengan nafas budaya Jawa dan daya tarik wisata yang letaknya saling berdekatan. Di balik itu, pastilah ada hal-hal lain yang bisa dioptimalkan dari ketiga bandara “segitiga” Jogja, Solo, Semarang (Joglosemar) ini. Joglosemar harus bisa bersaing dan bersanding.

Bandara Adisutjipto Yogyakarta

Mulai September 2016, setiap Jumat sore, digelar rapat percepatan pembangunan bandara baru Yogyakarta di Kulonprogo. Rapat dihadiri BOD, GM dan Pimpro yang terlibat dalam proyek pengembangan bandara, plus para Group Head terkait. Rapat mingguan kedua ini digelar tepat menjelang dimulainya pembayaran ganti-untung bagi warga yang setuju pembangunan bandara yang sedianya dilakukan mulai Rabu, 14 September 2016 hingga satu bulan mendatang.

Artinya, jalan panjang proyek pembangunan bandara baru Yogyakarta memasuki tahapan baru. Setelah pembayaran ini tuntas, perkembangan proyek harus semakin nyata terlihat. Pekerjaan membangun bandara baru di Yogyakarta ini memang bukan pekerjaan mudah dan murah, namun tak ada yang tak mungkin untuk mewujudkannya. Membangun bandara bukan sekadar membangun sarana transportasi udara, namun juga merupakan tindakan membangun peradaban baru. Kulonprogo akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar bandara. Kita akan mewujudkan sebuah desain pengembangan kawasan yang belum pernah ada di Indonesia, yaitu sebuah aerocity.

Bandara Ahmad Yani Semarang

Banyak hal baru yang telah terjadi di bandara ini. Mulai dari membuka dan melancarkan parkir dengan penempatan parkiran di belakang masjid, melatih para pengemudi taksi agar dapat melayani penumpang dengan lebih baik lagi, penataan area komersial sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM.129/2015, serta pendapatan operasional yang meningkat, dimana saat ini dari anggaran pendapatan sebesar Rp 6 miliar telah terealisasi Rp 9 miliar.

Selain memaksimalkan pelayanan di terminal yang ada saat ini, Bandara Ahmad Yani juga akan memiliki terminal baru, sebuah “floating airport” pertama di Indonesia. Sampai sekarang, progres proyek PPSRG yang termasuk dalam program strategis nasional ini telah terealisasi pada Paket I (jalan akses) sebesar 66% dan Paket II (apron) selesai 100%. Sementara Paket III (terminal) masih aanwijzing dan Paket IV (bangunan penunjang) belum dilelang. Memang, PPSRG ini molor kurang lebih setahun dari target yang direncanakan.

Yang perlu diingat, terminal baru bandara ini dibiayai dari pinjaman bank, lembaga keuangan bukan bank, serta obligasi. Bagaimana caranya kita bisa meningkatkan revenue agar investasi ini dapat segera kembali? Ini yang perlu dipikirkan bersama oleh kita, sebuah PR bersama.

Untuk mengoptimalkan peluang di sebuah bandara, perlu dilakukan survei dan studi untuk mencari fokus apa yang  bisa dipoles. Kenali siapa saja yang melewati bandara ini, survei karakteristik atau preferensi para penumpang. Sehingga kita tahu siapa pengguna jasa kita. Misalnya seperti di DPS dan LOP dimana banyak yang datang untuk surfing, tapi tak ada troli yang khusus untuk membawa alat-alat surfing. Sehingga, kita harus bisa mengkustomisasi sesuai karakter pengguna jasa kita, perlu memformulasikan seperti apa sebenarnya Bandara Ahmad Yani Semarang ini. Ingat, tantangan setiap bandara berbeda. Untuk itu munculkan ide lalu formulasikan.

Fungsi bandara adalah sebagai jembatan, sehingga bandara harus bisa melancarkan arus penumpang. Bandara perlu dibuat ‘seamless’ (mulus, tak ada halangan, transparan). Mudahkan penumpang dalam mencari moda transportasi lanjutan dari bandara, misalnya.

Ada dua hal yang selalu ingin diulang oleh orang, yaitu pariwisata dan umrah. Ini adalah peluang yang bisa dimaksimalkan oleh kita. Dalam hal pariwisata,  kita bisa bantu dan kerjasama dengan Dinas Pariwisata, membuat paket-paket wisata, atau promosi lewat pameran-pameran. Jangan mudah lelah untuk mencari peluang-peluang lain. Bisa meniru MDC yang bisa meningkatkan growth, atau mengeksplor keunggulan yang dimiliki, seperti SOC dan LOP yang penumpangnya bisa tumbuh 40%).

Bandara Ahmad Yani masih memiliki peluang untuk dapat dikembangkan, meski banyak yang harus diperbaiki. Saat ini harus baik, ke depan harus lebih baik. Ubahlah metode kerja. Kuncinya ada di tangan para middle management (Department Head dan Section Head).

Bandara Adi Soemarmo Solo

Ada beberapa kabar bagus yang terjadi bandara ini. Penumpang Bandara Adi Soemarmo saat ini menembus 2.300 penumpang per hari, tumbuh 28% dari sebelumnya yang hanya 1.800 orang per hari. Lalu, mulai 7 Oktober 2016 akan ada lima rute baru Lion Air dari SOC, yaitu tujuan Lombok, Makassar, Banjarmasin, Palangkaraya, dan Pontianak. Lion Air juga sedang mempersiapkan dua rute lainnya, Solo-Kupang dan Solo-Balikpapan, serta satu penerbangan internasional ke Kuala Lumpur. Selain itu, Sriwijaya Air pada 1 Oktober 2016 dan 6 Oktober 2016 akan menerbangkan pesawat untuk rute Solo-Guangzhou.

Sebelumnya, SOC juga telah memulai penerbangan umrah di tahun ini. Sehingga, dengan adanya peningkatan penumpang dan penambahan rute ini, mau tak mau SOC harus berubah dan berbenah. Pembukaan rute-rute baru harus dipromosikan besar-besaran. Di dalam area bandara dibuat umbul-umbul yang meriah, iklankan di troli atau di kursi tunggu bandara, promosikan di media. Harus lebih ramai dari promosi Airport Running Series (ARS) waktu itu.

SOC juga harus mulai me-marketing-kan diri, dengan do something. Ciptakan suasana terjadinya transaksi, itulah marketing. Sedangkan sales adalah transaksinya. Manfaatkan momentum gelombang baru ini dengan semangat baru.

Untuk itu, tambahkan fasilitas yang memang perlu ditambahkan. Kursi tunggu penumpang yang saat ini ada 584, segera ditambah 300 lagi. Tambahan kursi baru ini kalau perlu yang 50-nya berupa sofa, sehingga ada nuansa baru. Ciptakan suasana yang lebih nyaman. Mulai dari kursi, lay-out, lighting, hingga ornamen pendukung lainnya. Tempatkan troli di drop zone untuk memudahkan penumpang. Tambahkan troli yang saat ini ada 250 buah, mengingat pada peak hour bandara ini dipenuhi 400 penumpang dalam satu waktu. Segera realisasikan taman di bandara ini.

Ada harapan bahwa SOC akan jadi bandara yang tak lagi merugi, tapi akan menangguk untung. Apalagi ada kemungkinan bahwa PJP2U SOC akan disetujui kenaikannya, dari yang saat ini 30 ribu akan naik menjadi 50 ribu. Kembalikan kenaikan itu dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan bagi pengguna jasa. Ke depan, SOC harus melakukan extra mile, seperti saat kita menempa besi ketika panas. Saat ini momentumnya. Arah angin sudah berubah, dan SOC saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa.

Terus Perbaikan, Semangat Perbaikan!

Solo, 11 September 2016
-SWS. Hardjito-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *