Angkasa Pura Airports Libatkan Budayawan dan Akademisi Yogyakarta dalam Pembuatan Master Plan Bandara Baru Yogyakarta

news-968

Yogyakarta – Angkasa Pura Airports berupaya melibatkan para pemangku kepentingan budaya di Yogyakarta dalam proses pembuatan master plan, arsitektur, dan desain Bandara Baru Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, dengan menggelar forum diskusi yang bertajuk “Angkringan, The New Yogyakarta Airports” pada Kamis (6/10) di Joglo Pelem Golek, Yogyakarta.

Hal ini merupakan upaya Angkasa Pura Airports untuk melakukan pembangunan yang inklusif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, dan menjadikan esensi perkembangan budaya di Yogyakarta sebagai salah satu acuan pada pembangunan Bandara Baru Internasional Yogyakarta.

“Yogyakarta memiliki nilai historis dan budaya yang beragam dan mendalam sehingga esensi nilai-nilai tersebut perlu dipahami agar dapat diimplementasikan dan disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat, termasuk dalam hal pembangunan infrastruktur,” ungkap Direktur Utama Angkasa Pura Airports, Sulistyo Wimbo Hardjito.

“Kami perlu memahami lebih dalam esensi dan perkembangan budaya masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk dijadikan sebagai acuan dalam rangka persiapan pembuatan master plan, arsitektur, dan desain Bandara Baru Internasional Yogyakarta,” lanjutnya.

Adapun para pembicara yang diundang pada forum diskusi ini berasal dari kalangan budayawan, pekerja seni, antropolog, dan sejarawan asli dan tinggal di Yogyakarta.

Para pembicara tersebut diantaranya Juki (Kill The DJ), dan Djaduk Ferianto dari kalangan pekerja seni; Socio-cultural Anthropologist Prof. Heddy Shri Ahimsa dan Pegiat Consumer Society & Inter-Religious Studies Prof. Irwan Abdullah Ph.D dari kalangan antropolog, Eko Prawoto dari kalangan arsitektur, Prof. Suhartono dari ahli sejarah,  dan Edie Haryoto dari ahli bandara. Diskusi ini dimoderatori oleh Butet Kertaradjasa.

Pada momen diskusi ini dibahas berbagai hal terkait budaya, mulai dari sejarah berkembangnya bandara di Yogyakarta yang tengah bertransformasi dari pusat pelatihan TNI ke bandara komersial, aksesibilitas dan moda transportasi di Yogyakarta dari waktu ke waktu, ekspresi seni warga Yogyakarta dan sekitarnya di ruang publik termasuk bandara, desain bandara yang memperhitungkan kearifan lokal, hingga ke hal teknis pembangunan bandara dan berbagai fasilitasnya.

Wimbo mengatakan bahwa membangun bandara bukan sekadar membangun sarana transportasi udara, tapi juga bagian dari upaya membangun peradaban baru. Menurutnya, Kulonprogo akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar bandara.

“Kami akan mewujudkan konsep pengembangan kawasan yang belum pernah ada di Indonesia, yaitu aerocity yang mengadopsi dan menghargai kearifan lokal. Oleh karena itu, kami meminta masukan dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya, agar dapat mewujudkan pembangunan kota bandara yang membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat di Yogyakarta pada umumnya, dan Kulonprogo pada khususnya,” imbuh Wimbo.  [DSS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *