Angkasa Pura Airports Gagas Museum Bandara Kemayoran

SAVE KEMAJORAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan awalnya adalah untuk menyelamatkan bangunan bekas terminal dan menara pengatur lalu lintas udara Bandara Kemayoran, lalu berkembang untuk menjadikannya sebagai sebuah Museum Bandara Kemayoran demi menyelamatkan cagar budaya ini.

Jakarta – PT Angkasa Pura I (Persero) menggelar kick-off meeting untuk mewujudkan gagasan pembangunan Museum Bandara Kemayoran Indonesia, bertempat di Hotel NAM Center, Kemayoran, Jakarta (13/6). Acara ini dihadiri antara lain oleh perwakilan Angkasa Pura II, Perum LPPNPI, Garuda Indonesia, Komunitas Save Ex Kemajoran Airport, Komunitas Tintin Indonesia, serta Pusat Pengelola Kawasan Kemayoran (PPK Kemayoran).

“Kami menaruh perhatian besar untuk menyelamatkan cagar budaya bekas Bandara Kemayoran sebagai bandara komersial tertua di Indonesia. Selain itu, sejarah panjang Angkasa Pura Airports juga tak bisa lepas dari keberadaan tempat ini. Untuk itu kami bermaksud menginisasi sebuah upaya yang lebih konkret,” jelas Marketing & Business Development Director Angkasa Pura Airports, Moch. Asrori.

Tujuan awalnya, lanjut Asrori, adalah untuk menyelamatkan bangunan bekas terminal dan menara pengatur lalu lintas udara Bandara Kemayoran, lalu berkembang untuk menjadikannya sebagai sebuah Museum Bandara Kemayoran demi menyelamatkan cagar budaya ini.

Langkah ini telah dimulai dengan mengadakan pertemuan awal para penggagas yang terdiri dari Angkasa Pura Airports, Komunitas Save Ex Kemajoran Airport, serta Komunitas Tintin Indonesia pada 31 Mei 2016. Pertemuan ini disambut positif oleh pihak PPK Kemayoran. Selanjutnya, pada Minggu pagi, 5 Juni 2016 lalu, dilakukan napak tilas bersama ke lokasi. “Namun untuk lebih memaksimalkan upaya ini, perlu melibatkan lebih banyak pihak lagi. Untuk itu, selain melibatkan PPK Kemayoran dan komunitas, kami juga mengajak Angkasa Pura II, Perum LPPNPI, dan Garuda Indonesia untuk merealisasikan rencana ini,” imbuh Asrori.

“Kami telah mendapatkan ijin dari Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menggunakan lantai 2 dan lantai 3 bekas terminal Bandara Kemayoran. Kami sepakat untuk turut menjaga dan merawat cagar budaya ini,” kata Asrori lagi.

Mokhammad Misdianto dari Komunitas Tintin Indonesia menyebutkan bahwa pelestarian bekas Bandara Kemayoran ini sangat penting mengingat tempat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bandara di Indonesia. “Peninggalan Bandara Kemayoran ini antara lain terdiri dari bekas menara (tower) air traffic controller (ATC), apron, bangunan terminal, termasuk terminal VIP, serta cross runway di Komplek PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat. Namun bisa dikatakan bahwa jejak-jejak Bandara Kemayoran itu saat ini sudah tidak terlihat lagi dengan jelas,” tambah Misdianto.

Menara Bandara Kemayoran telah dijadikan sebagai benda cagar budaya DKI Jakarta berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993 yang ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirja. Menara ini merupakan bagian dari Bandara Internasional Kemayoran yang memiliki peran sentral dalam lalu lintas penerbangan komersial internasional. Bandara Internasional Kemayoran yang dibangun pada 1934 dan beroperasi pada 6 Juli 1940 ini merupakan bandara internasional pertama di Indonesia. Pada 1 Juni 1984, Bandara Internasional Kemayoran resmi berhenti beroperasi dan semua penerbangan sipil dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. [Arif Haryanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *