59 Persen Masalah Penerbangan Terjadi karena Buruknya Runway

DENPASAR – Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI bekerja sama dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) menggelar seminar “Regional Runway Safety Asia Pasific” di Denpasar, Bali. Seminar yang diikuti oleh 322 peserta dari 33 negara dan enam asosiasi penerbangan internasional yakni ICAO, FSF, AITA, IFALPA, dan ASECNA ini dibuka sejak 21 Mei 2012 dan akan dilanjutkan dengan acara workshop hingga 24 Mei nanti.

Penyelenggaraan seminar dan workshop ini merupakan bagian dari langkah strategis dan kampanye Indonesia dalam rangka pencalonan Indonesia sebagai anggota dewan ICAO 2013-2016.

Dalam Rangkaian kegiatan ini dibicarakan beberapa hal pokok terkait keselamatan penerbangan. Salah satunya adalah promosi tentang meliputi pembentukan runway safety team atau tim yang akan melaksanakan dan mengawasi keselamatan di landasan pacu (runway) bandar udara di Indonesia. Tim akan beranggotakan seluruh pemangku kepentingan di bidang penerbangan dan akan bekerja sama dengan berbagai elemen yang mendukung seperti pemerintah daerah. Selain itu juga akan dibahas isu lain seperti identifikasi runway safety hazard, perbedaan strategi mitigasi, serta isu regional lain.

Seminar yang pertama kali digelar untuk wilayah Asia Pasifik ini bertujuan menyosialisasikan pentingnya keselamatan dalam penerbangan terutama di landasan pacu. “Ini merupakan seminar pertama di dunia tentang keselamatan di runway. Kita harapkan hasilnya dapat lebih meningkatkan keselamatan penerbangan kita,” ujar Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Berdasarkan data ICAO, dari 2006 hingga 2010, 59 persen masalah penerbangan terjadi karena buruknya landasan pacu (runway). Bahkan, jika dibandingkan dengan penyebab kecelakaan lain, runway mendominasi dibandingkan dengan penyebab lainnya seperti sistem yang gagal, kebakaran, turbulensi, serta hilangnya kontrol dalam pesawat. “Keselamatan di runway perlu ditingkatkan karena 59 persen kecelakaan penerbangan di tingkat global terkait dengan runway,” kata Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti.

“Untuk itu diperlukan pendekatan multidisiplin dengan merangkul berbagai pemangku kepentingan seperti pengelola bandara, ATC, ground handling. Bahkan juga bisa kerja sama dengan kepolisian dan pemerintah daerah setempat,” imbuhnya. [AH]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *